Bayangkan kamu membangun sebuah bisnis selama hampir dua dekade, melewati berbagai badai ekonomi, bertahan di tengah persaingan yang ketat, bahkan sempat mencapai puncak kejayaan saat pandemi melanda dunia. Lalu dalam waktu kurang dari dua tahun, semuanya runtuh bukan karena krisis keuangan global atau salah kelola manajemen, melainkan karena sebuah chatbot AI yang siapa pun bisa gunakan secara gratis.
Itulah yang dialami Chegg, platform bimbingan belajar online terbesar di Amerika Serikat.
| Logo Chegg, perusahaan bimbel online asal AS(David Paul Morris/Bloomberg News) |
Chegg, yang berdiri sejak 2006, telah lama menjadi sumber bantuan belajar utama bagi siswa di Amerika Serikat. Selama bertahun-tahun, platform ini menyediakan layanan yang mencakup jawaban soal dan konsultasi ahli untuk pelanggan yang berlangganan dengan biaya sekitar 19,95 dolar AS per bulan. Dengan kurs saat ini, angka itu setara dengan sekitar Rp 314 ribu per bulan, sebuah harga yang dianggap wajar oleh jutaan pelajar AS yang mengandalkan Chegg untuk mengerjakan tugas dan memahami materi pelajaran.
Tapi semua itu berubah ketika ChatGPT muncul.
Dari Buku Bekas ke Raksasa Edukasi Digital
Sebelum membahas kejatuhannya, penting untuk memahami seberapa besar Chegg di masa kejayaannya. Berawal dari bisnis menyewakan buku pelajaran, Chegg terus berkembang menjadi tempat belajar daring para pelajar AS selama bertahun-tahun. Model bisnis mereka sederhana tapi efektif: pelajar yang kesulitan mengerjakan PR atau tidak memahami materi tertentu bisa mengajukan pertanyaan, dan tim ahli Chegg akan memberikan jawaban terperinci.
Chegg sukses meraih popularitas di kalangan pelajar dan mahasiswa, terutama di negara-negara dengan sistem pendidikan tinggi yang kompetitif. Puncak kejayaannya terjadi pada tahun 2021, saat pandemi Covid-19 memaksa seluruh kegiatan belajar beralih ke format daring. Pada titik itulah harga saham Chegg menembus level tertingginya, mencapai 113,51 dolar AS per lembar saham atau sekitar Rp 1,7 juta.
Ketika ChatGPT Datang dan Mengubah Segalanya
Sejak kemunculan ChatGPT pada tahun 2023, Chegg kehilangan lebih dari setengah juta pelanggannya. Pelajar yang sebelumnya menggunakan layanan Chegg untuk mendapatkan jawaban atau bimbingan dari ahli, beralih ke ChatGPT yang mampu memberikan informasi lebih cepat dan mudah.
Alasannya sangat masuk akal dari sudut pandang pengguna. ChatGPT yang dilatih menggunakan sejumlah besar data dan informasi mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik. Keuntungan ChatGPT dibandingkan Chegg dalam membantu menyelesaikan tugas menjadi sangat jelas bagi para siswa. Kenapa harus membayar Rp 314 ribu per bulan kalau ada alternatif yang lebih cepat, lebih mudah diakses, dan bisa digunakan secara gratis?
Biaya yang dibutuhkan untuk menggunakan ChatGPT jauh lebih murah daripada langganan platform bimbingan online. Hal ini membuat ChatGPT semakin menarik bagi pelajar yang mencari cara cepat dan ekonomis untuk memahami materi pelajaran.
Dampaknya langsung terasa ke angka-angka bisnis Chegg. Saham Chegg merosot tajam hingga anjlok 99 persen, dari harga tertinggi pada tahun 2021 sebesar 113,51 dolar AS per lembar saham menjadi hanya 1,86 dolar AS per lembar. Penurunan sebesar 99 persen dalam waktu kurang dari tiga tahun. Angka yang sulit dibayangkan bagi sebuah perusahaan yang pernah dianggap sebagai masa depan industri pendidikan digital.
Kesalahan Fatal: Meremehkan ChatGPT di Awal
Yang membuat kisah ini semakin menyakitkan adalah fakta bahwa Chegg sebenarnya punya kesempatan untuk bertindak lebih awal, tapi memilih untuk tidak melakukannya.
Pada tahun 2022, karyawan Chegg sebenarnya sudah mengusulkan penggunaan AI untuk menghasilkan jawaban secara otomatis. Namun, saat itu ide tersebut ditolak oleh para eksekutif Chegg. Chegg juga sempat mengesampingkan ChatGPT saat belum lama dirilis OpenAI. Awalnya Chegg mengira ChatGPT tidak berisiko karena kecenderungan chatbot dalam memberikan jawaban yang ngawur.
Keputusan untuk mengabaikan sinyal peringatan dini itu terbukti menjadi salah satu kesalahan paling mahal dalam sejarah perusahaan. Sementara Chegg menunggu dan meremehkan, jutaan pelajar secara diam-diam sudah mulai beralih ke ChatGPT dan tidak pernah kembali.
Berbagai Upaya Penyelamatan yang Tidak Membuahkan Hasil
Menyadari ancaman yang semakin nyata, Chegg akhirnya mencoba sejumlah langkah untuk membalikkan keadaan. Sayangnya, semuanya datang terlambat.
Langkah pertama yang diambil adalah menjalin kolaborasi langsung dengan OpenAI, perusahaan di balik ChatGPT, untuk menciptakan layanan bernama Cheggmate. Idenya adalah menggabungkan basis data soal dan jawaban milik Chegg dengan kemampuan GPT-4, berharap hasilnya bisa menjadi produk yang lebih unggul dari keduanya. Meski sempat mencoba bangkit melalui layanan Cheggmate yang menggabungkan basis data mereka dengan GPT-4, upaya ini gagal total karena pengguna lebih memilih berinteraksi langsung dengan ChatGPT.
Langkah berikutnya, Chegg bekerja sama dengan Scale AI, menciptakan puluhan sistem AI untuk berbagai bidang studi. Situs web Chegg kini juga dibuat menyerupai ChatGPT, di mana tersedia kolom yang memungkinkan pengguna mengajukan pertanyaan atau permintaan. Strategi ini terasa seperti pengakuan tidak langsung bahwa Chegg sendiri pun mengakui ChatGPT sebagai standar baru yang harus diikuti, bukan dilawan.
Tapi semua upaya ini tidak cukup. Penurunan dari kuartal ke kuartal membuat Chegg tak mampu membayar utang. Meski Chegg sudah mengadopsi AI ke platform-nya, ini tidak membuat perusahaan mendapat kembali kepercayaan dari para pelanggan dan investornya.
Pergantian Kepemimpinan dan PHK Massal
Tekanan yang terus bertumpuk akhirnya berdampak pada jajaran pimpinan tertinggi perusahaan. CEO Chegg, Dan Rosensweig, yang telah memimpin perusahaan selama lebih dari satu dekade, akhirnya mengundurkan diri pada Juni 2024 menyusul penurunan tajam pada kinerja saham perusahaan.
Posisinya kemudian diambil alih oleh Nathan Schultz, yang langsung mengambil langkah-langkah drastis untuk mencoba menyelamatkan perusahaan. Nathan Schultz memutuskan untuk memangkas 441 karyawan dan melakukan ekspansi internasional, berharap dapat membawa Chegg ke pasar yang lebih luas. Pemecatan 441 orang itu setara dengan seperempat dari total tenaga kerja Chegg, sebuah langkah yang menyakitkan tapi dianggap perlu untuk efisiensi.
Schultz juga menghentikan proyek Cheggmate yang dianggap sudah tidak relevan, dan berupaya mengubah arah Chegg dari sekadar penyedia jawaban PR menjadi platform pendidikan yang lebih komprehensif. Sayangnya, langkah tersebut tetap tidak mampu menyelamatkan Chegg dari kebangkrutan. Keputusan Chegg untuk menunda adopsi AI di masa awal ternyata menjadi salah satu kesalahan fatal yang mempercepat kejatuhannya.
Pelajaran Besar dari Kejatuhan Chegg
Kisah Chegg bukan sekadar berita bisnis dari negeri seberang yang tidak ada hubungannya dengan kita. Ada beberapa pelajaran penting yang bisa dipetik dari kejadian ini, terutama bagi siapa saja yang berkecimpung di dunia bisnis digital atau pendidikan.
Pertama, meremehkan disrupsi teknologi adalah taruhan yang sangat berisiko. Chegg punya cukup waktu dan sumber daya untuk beradaptasi sejak dini, tapi memilih untuk menunggu sampai dampaknya sudah tidak bisa dihindari. Di era AI yang bergerak secepat ini, menunggu berarti tertinggal.
Kedua, loyalitas pelanggan bisa berubah sangat cepat ketika ada alternatif yang lebih baik dengan harga lebih murah. Pelajar tidak memilih ChatGPT karena tidak suka Chegg, mereka memilih ChatGPT karena solusinya lebih praktis dan gratis. Dalam konteks ini, kesetiaan terhadap sebuah platform sangat bergantung pada seberapa besar nilai yang ditawarkan dibandingkan alternatif yang ada.
Ketiga, adaptasi terhadap AI tidak bisa hanya bersifat kosmetik. Salah satu faktor utama yang menyebabkan kebangkrutan Chegg adalah ketidakmampuannya untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan teknologi. Meskipun Chegg sempat mencoba untuk mengintegrasikan AI ke dalam layanannya, pengembangan ini terlambat dan tidak cukup untuk mengimbangi. Membuat tampilan situs menyerupai ChatGPT tidak sama dengan benar-benar bertransformasi secara fundamental.
Keempat dan yang paling relevan untuk semua orang, kisah Chegg adalah pengingat bahwa tidak ada bisnis yang terlalu besar atau terlalu mapan untuk terdampak oleh AI. Kehilangan Chegg ini menjadi peringatan bagi banyak perusahaan di sektor edtech dan bimbel online. ChatGPT tidak hanya menggantikan peran bimbingan tradisional, tetapi juga menciptakan standar baru dalam cara orang belajar dan mengakses informasi.
Apa Artinya Semua Ini bagi Dunia Pendidikan?
Dari satu sisi, kejatuhan Chegg bisa dilihat sebagai kabar baik bagi pelajar. Akses ke bantuan belajar berkualitas kini jauh lebih mudah dan murah dari sebelumnya. ChatGPT dan berbagai alat AI lainnya telah mendemokratisasi akses ke penjelasan materi yang dulu harus dibayar mahal.
Tapi di sisi lain, ada pertanyaan yang lebih besar yang belum terjawab: apakah kemudahan akses terhadap jawaban instan ini benar-benar membuat pelajar lebih pandai, atau justru semakin mengurangi kemampuan berpikir kritis dan mandiri?
Itu adalah diskusi yang lebih panjang dan lebih kompleks, yang mungkin dampaknya baru akan terasa beberapa tahun ke depan.
Yang pasti, kisah Chegg sudah menjadi salah satu studi kasus paling nyata tentang bagaimana AI bisa mengubah, bahkan menghancurkan, sebuah industri yang sudah mapan dalam waktu yang sangat singkat.