Punya second account di Instagram atau TikTok sudah bukan hal yang asing lagi, terutama di kalangan Gen Z. Akun kedua ini biasanya jadi tempat yang terasa "lebih bebas" — tempat curhat tanpa nama asli, mengunggah meme tanpa filter, atau sekadar mengeluh soal pekerjaan dan kuliah tanpa takut dihakimi oleh orang-orang terdekat.
Dengan foto profil anonim dan username acak, banyak pengguna merasa aman bersembunyi di balik identitas palsu tersebut. Tapi bagaimana jika rasa aman itu hanya ilusi?
Sebuah studi terbaru yang dilaporkan oleh berbagai media internasional, termasuk The Guardian, mengungkap temuan yang cukup mengejutkan: teknologi kecerdasan buatan kini mampu menghubungkan akun anonim dengan identitas asli pemiliknya — dan prosesnya jauh lebih mudah dari yang kamu bayangkan.
Bagaimana AI Bisa Tahu Itu Kamu?
Kamu mungkin berpikir, "Saya tidak pakai nama asli, tidak pakai foto wajah, jadi aman dong?" Sayangnya, AI tidak bekerja sesederhana itu.
Teknologi berbasis Large Language Model (LLM) — yang juga menjadi fondasi berbagai chatbot populer saat ini — ternyata mampu menganalisis pola perilaku digital seseorang secara mendalam. Bukan hanya kata-kata yang ditulis, melainkan juga topik yang sering dibahas, gaya bahasa yang digunakan, jam aktif bermedia sosial, bahkan referensi-referensi kecil yang tersebar di berbagai unggahan.
Bayangkan skenario ini: di akun anonimmu, kamu sesekali menyebut nama hewan peliharaan. Di unggahan lain, kamu curhat soal kantor di kota tertentu. Di postingan berikutnya, kamu menyebut band favorit yang juga sering muncul di akun utamamu. Bagi manusia biasa, detail-detail ini mungkin tampak tidak berarti. Namun bagi AI, potongan informasi kecil ini bisa dirangkai menjadi sebuah profil yang sangat akurat.
AI akan menelusuri berbagai platform internet untuk mencari akun lain yang memiliki informasi serupa. Jika ditemukan beberapa kecocokan, sistem kemudian dapat memperkirakan identitas pemilik akun anonim tersebut. Semakin banyak informasi yang kamu bagikan secara konsisten di internet, semakin mudah proses pelacakan ini dilakukan.
Apa Kata Para Ahli?
Profesor Marti Hearst dari UC Berkeley menegaskan bahwa AI hanya dapat menghubungkan identitas pengguna jika terdapat pola informasi yang konsisten antara akun anonim dan akun utama. Ini sebenarnya kabar baik sekaligus kabar buruk. Kabar baiknya, jika kamu benar-benar menjaga dua akun ini benar-benar terpisah tanpa irisan informasi apapun, AI akan kesulitan membuat koneksi. Kabar buruknya, kebanyakan orang tidak sadar bahwa mereka terus-menerus membocorkan informasi kecil yang konsisten di kedua akun secara tidak sengaja.
Di sisi lain, pakar keamanan siber Dr. Marc Juarez dari University of Edinburgh juga menyoroti betapa seriusnya implikasi temuan ini. Menurutnya, kemampuan AI semacam ini seharusnya mendorong semua orang untuk mengevaluasi ulang kebiasaan berbagi informasi secara online.
Risiko Nyata yang Perlu Kamu Waspadai
Mungkin kamu berpikir, "Memangnya kenapa kalau ketahuan? Akun saya tidak ada yang kontroversial kok." Tapi ancamannya tidak sesederhana soal ketahuan curhat sama teman atau rekan kerja. Berikut beberapa risiko serius yang bisa muncul:
1. Doxing Jika seseorang dengan niat buruk berhasil menghubungkan akun anonimmu dengan identitas asli, mereka bisa menyebarkan informasi pribadimu secara publik. Ini terutama berbahaya jika akun anonimmu pernah memposting opini yang sensitif atau kontroversial.
2. Cyberbullying yang Lebih Terarah Beda dengan serangan acak, pelaku yang sudah tahu identitas aslimu bisa melancarkan gangguan yang jauh lebih personal dan sulit dihentikan.
3. Spear Phishing Para peneliti memperingatkan bahwa teknologi ini dapat dimanfaatkan oleh peretas untuk melakukan penipuan yang lebih personal. Dengan memanfaatkan informasi yang dikumpulkan AI dari berbagai unggahan, pelaku kejahatan siber dapat melakukan teknik spear phishing — yaitu penipuan yang dirancang secara khusus untuk menipu target tertentu. Mereka bisa menyamar sebagai orang yang kamu kenal, lengkap dengan referensi detail yang membuat pesannya terasa meyakinkan.
4. Salah Sasaran Ada risiko lain yang tidak kalah mengkhawatirkan: AI bisa saja keliru. Sistem bisa secara tidak sengaja menghubungkan identitasmu dengan akun yang bukan milikmu, hanya karena kamu dan pemilik akun tersebut kebetulan memiliki kesamaan pola — seperti menyukai genre musik yang sama atau sering membahas topik serupa.
Cara Melindungi Privasi Second Account-mu
Meski teknologinya terus berkembang, ada beberapa langkah konkret yang bisa kamu lakukan untuk memperkecil risiko:
Minimalkan irisan informasi. Hindari menyebut hal-hal yang juga ada di akun utamamu — nama tempat favorit, nama orang-orang terdekat, atau referensi spesifik yang unik untukmu.
Gunakan email berbeda. Daftarkan second account dengan email yang benar-benar berbeda dan tidak terhubung ke akun utama.
Perhatikan gaya bahasamu. AI bisa mengenali pola penulisan. Jika kamu memiliki kebiasaan menulis yang sangat khas — misalnya selalu menggunakan kata tertentu atau struktur kalimat tertentu — cobalah lebih berhati-hati.
Batasi informasi lokasi. Jangan mengunggah foto atau menyebut lokasi yang bisa menjadi penanda identitasmu.
Privat akun-mu. Akun yang bersifat privat jauh lebih sulit untuk di-scraping oleh bot atau sistem otomatis.
Anonimitas Digital Semakin Tipis
Temuan ini bukan dimaksudkan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pengingat bahwa di era kecerdasan buatan, konsep "anonim di internet" semakin tidak bisa diandalkan sepenuhnya.
Second account tetap bisa digunakan sebagai ruang ekspresi yang lebih personal — tapi dengan kesadaran penuh bahwa setiap jejak digital yang kamu tinggalkan, sekecil apapun, berpotensi menjadi puzzle yang bisa dirangkai oleh AI.
Jadi, tetaplah bijak dalam berbagi. Karena di internet, tidak ada yang benar-benar hilang begitu saja.
Apakah kamu punya second account? Share pendapatmu di kolom komentar!